Detektif Clayton lagi-lagi mendapat kasus aneh. Kali ini kasusnya dari seorang istri pejabat, nyonya Clara Hale di New York. Sang suami, tuan Charles Hale mati karena kehabisan darah di ruang kerja di rumahnya pada jam 7 malam. Istrinya sedang pergi ke rumah seorang sanak saudara pada jam 7 malam dan baru pulang jam setengah 9. Dan saat dia menemukan suaminya, suaminya sudah mati tergeletak di ruang kerjanya. Orang-orang yang sedang pergi keluar saat tuan Charles tewas pun dicurigai, dan mereka semua adalah pejabat dan juga saingan tuan Charles, dan uniknya lagi, mereka memiliki nama yang sama. Orang-orang yang dicurigai adalah :
1. Tuan James Patterson, pada jam 6 pergi jalan-jalan ke pameran yang baru dibuka sampai jam 8.
2. Tuan James Harker, pada jam setengah 6 pergi ke restoran dan pulang ke rumahnya jam setengah 8.
3. Tuan James Pilgrim, pada jam setengah 7 pergi rapat dan baru pulang jam 9.
4. Tuan James Rider, pada jam 5 lewat 15 menit pergi ke peternakan kuda miliknya dan pulang jam setengah 9.
Saat polisi sedang menyelidiki ruangan tempat korban meninggal, polisi menemukan sebuah kertas bernoda darah yang memiliki tulisan yang memakai tinta hitam di dalam laci meja tuan Charles. Isinya adalah :
A F G T U J I P I U L O T E Y I O P L I M H G L A H Y T R K M G M N G H T R E R I J A Q W R T I M M U I T R E M
Hm, sepertinya sebelum tuan Charles kehabisan darah, dia sempat menulis pesan ini, pikir Detektif Clayton. Awalnya Detektif Clayton bingung akan maksud isi pesan itu, namun tiba-tiba dia sadar bahwa di belakang kertas itu masih ada tulisan beberapa angka dan hitungan, yaitu :
((8-0) - (2x2)) + ((2+5) - (2+1))
Detektif Clayton tiba-tiba tertawa dan berkata :
"Astaga! Ternyata isi pesan ini menunjukkan marga si pelaku! Aku tahu sekarang siapa pelakunya!"
Siapakah pembunuh tuan Charles?
Tampilkan postingan dengan label Kasus-kasus Unik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kasus-kasus Unik. Tampilkan semua postingan
Sabtu, 21 Januari 2012
Jumat, 20 Januari 2012
Postingan Kasus--Part 3
Detektif Clayton mendapat kasus yang cukup aneh dari seorang pemuda yang kaya raya, John, yang baru saja kehilangan ayahnya, tuan Arnold. Tuan Arnold meninggal di Washington D.C, jam setengah 9 malam. Menurut pemeriksaan polisi, tuan Arnold bunuh diri dengan cara menusukkan pisau ke dadanya, namun, John yakin itu adalah sebuah pembunuhan. Dia meminta Detektif Clayton untuk membuktikan bahwa ayahnya dibunuh. Namun, semua orang yang dicurigai sebagai pembunuh tuan Arnold memiliki alibi yang kuat saat tuan Arnold terbunuh. Ini dia alibi mereka:
1. Max, kakak tertua John : Dia sering berjudi dan sering bertengkar dengan ayahnya.Dia sedang berada di pesta temannya di Phoenix.
2. Emily, istri tuan Arnold : ketahuan berselingkuh setengah tahun yang lalu. Dia sedang berada di tempat selingkuhannya di New York.
3. Rex, adik korban : Sering diejek kekayaanya oleh tuan Arnold karena tidak sekaya tuan Arnold. Dia sedang rapat di kantornya di Connecticut.
4. Jane, kakak kedua John : sering berfoya-foya hingga tuan Arnold sering memarahinya. Sedang berbelanja di California.
5. Rico, anak angkat tuanArnold : sering tak patuh akan kata-kata tuan Arnold dan suka memberontak. Sedang menginap di sebuah hotel di San Francisco.
Detektif Clayton pun bingung karena alibi semua orang sempurna, namun, ternyata diketahui bahwa tuan Arnold sempat menulis petunjuk dengan darahnya:
"Jari-jariku. . ."
"Akan terus menulis. . ."
"Nama pembunuh yang. . ."
"Enaknya saja memutuskan hidup seseorang."
Detektif Clayton tiba-tiba tersenyum. Dia sudah tahu siapa yang membunuh tuan Arnold. Siapakah pembunuh tuan Arnold?
1. Max, kakak tertua John : Dia sering berjudi dan sering bertengkar dengan ayahnya.Dia sedang berada di pesta temannya di Phoenix.
2. Emily, istri tuan Arnold : ketahuan berselingkuh setengah tahun yang lalu. Dia sedang berada di tempat selingkuhannya di New York.
3. Rex, adik korban : Sering diejek kekayaanya oleh tuan Arnold karena tidak sekaya tuan Arnold. Dia sedang rapat di kantornya di Connecticut.
4. Jane, kakak kedua John : sering berfoya-foya hingga tuan Arnold sering memarahinya. Sedang berbelanja di California.
5. Rico, anak angkat tuanArnold : sering tak patuh akan kata-kata tuan Arnold dan suka memberontak. Sedang menginap di sebuah hotel di San Francisco.
Detektif Clayton pun bingung karena alibi semua orang sempurna, namun, ternyata diketahui bahwa tuan Arnold sempat menulis petunjuk dengan darahnya:
"Jari-jariku. . ."
"Akan terus menulis. . ."
"Nama pembunuh yang. . ."
"Enaknya saja memutuskan hidup seseorang."
Detektif Clayton tiba-tiba tersenyum. Dia sudah tahu siapa yang membunuh tuan Arnold. Siapakah pembunuh tuan Arnold?
Kamis, 19 Januari 2012
Postingan Kasus--Part 2
Anda kenal dengan Hercule Poirot, bukan? Dia adalah tokoh detektif
ciptaan Agatha Christie yang merupakan detektif terhebat setelah
Sherlock Holmes. Buku-buku dengan Poirot sebagai detektif selalu laku
keras. Salah satu buku yang paling terkenal “The Big Four”.
Sekarang Los Angeles dihebohkan karena ada sebuah buku “The Big Four” cetakan pertama yang terdapat tulisan dan tanda tangan asli pengarang pada halaman pertama buku tersebut. Detektif Clayton yang tergila-gila pada kisah Hercule Poirot segera ke toko buku itu untuk melihat. Di tempat itu telah dipadati oleh banyak orang. Rupanya penggemar Hercule Poirot banyak sekali. Terjadi tawar menawar di antara mereka. Siapa penawar tertinggi akan memperoleh buku langka tersebut.
“1000 dollar;” tawar seorang bapak.
“1500 dollar,” ibu berkacamata tak mau kalah.
“2500 dollar,” seru Detektif Clayton. Nggak apa-apa deh kalo harus makan mie instant sebulan ini asal bisa mendapat buku tersebut. “20000 dollar!”
Wow! Semua orang menoleh ke empunya suara. Seorang gadis berusia 20-an yang cantik. Tentu saja dengan tawaran setinggi itu, bukunya diperoleh gadis tersebut. Kerumunan mulai mereda. Detektif Clayton yang masih penasaran ingin melihat buku itu, menghampiri si gadis.
“Selamat siang, nona. Maaf kalau mengganggu.”
“Ya, ada apa?”
“Saya adalah fans berat Hercule Poirot. Boleh nggak saya melihat isi tulisan yang dihebohkan itu sebentar saja?” ujar Detektif Clayton penuh harap.
Ternyata gadis yang bernama Cindy tidak keberatan. Dia meminjamkannya kepada Detektif Clayton. Dengan hati-hati Detektif Clayton membuka halaman pertama buku itu dan membaca. Halamannya sudah menguning dan tulisan tangannya agak susah dibaca. Ini isinya:
** Kepada cucuku yang tercinta. Buku ini kuhadiahkan untukmu. Semoga kamu rajin belajar selalu. Tertanda, Hercule Poirot. **
Tiba-tiba raut wajah Detektif Clayton menjadi gusar.
“Cindy, ada yang salah pada tulisan ini. Coba dibaca deh.” Detektif Clayton menyodorkan buku itu ke Cindy.
“Hmm, kamu benar.” Angguk Cindy. “Yuk, kita temui si pemilik buku ini.”
Akhirnya si penjual buku ini mengaku setelah diberitahu kesalahan fatal yang diperbuatnya. Dia mengaku telah menulis sendiri tulisan di halaman pertama sehingga ia dapat menjual buku itu dengan harga yang tinggi. Dengan berat hati dia mengembalikan uang Cindy.
Mengapa Detektif Clayton tahu bahwa buku itu palsu?
Sekarang Los Angeles dihebohkan karena ada sebuah buku “The Big Four” cetakan pertama yang terdapat tulisan dan tanda tangan asli pengarang pada halaman pertama buku tersebut. Detektif Clayton yang tergila-gila pada kisah Hercule Poirot segera ke toko buku itu untuk melihat. Di tempat itu telah dipadati oleh banyak orang. Rupanya penggemar Hercule Poirot banyak sekali. Terjadi tawar menawar di antara mereka. Siapa penawar tertinggi akan memperoleh buku langka tersebut.
“1000 dollar;” tawar seorang bapak.
“1500 dollar,” ibu berkacamata tak mau kalah.
“2500 dollar,” seru Detektif Clayton. Nggak apa-apa deh kalo harus makan mie instant sebulan ini asal bisa mendapat buku tersebut. “20000 dollar!”
Wow! Semua orang menoleh ke empunya suara. Seorang gadis berusia 20-an yang cantik. Tentu saja dengan tawaran setinggi itu, bukunya diperoleh gadis tersebut. Kerumunan mulai mereda. Detektif Clayton yang masih penasaran ingin melihat buku itu, menghampiri si gadis.
“Selamat siang, nona. Maaf kalau mengganggu.”
“Ya, ada apa?”
“Saya adalah fans berat Hercule Poirot. Boleh nggak saya melihat isi tulisan yang dihebohkan itu sebentar saja?” ujar Detektif Clayton penuh harap.
Ternyata gadis yang bernama Cindy tidak keberatan. Dia meminjamkannya kepada Detektif Clayton. Dengan hati-hati Detektif Clayton membuka halaman pertama buku itu dan membaca. Halamannya sudah menguning dan tulisan tangannya agak susah dibaca. Ini isinya:
** Kepada cucuku yang tercinta. Buku ini kuhadiahkan untukmu. Semoga kamu rajin belajar selalu. Tertanda, Hercule Poirot. **
Tiba-tiba raut wajah Detektif Clayton menjadi gusar.
“Cindy, ada yang salah pada tulisan ini. Coba dibaca deh.” Detektif Clayton menyodorkan buku itu ke Cindy.
“Hmm, kamu benar.” Angguk Cindy. “Yuk, kita temui si pemilik buku ini.”
Akhirnya si penjual buku ini mengaku setelah diberitahu kesalahan fatal yang diperbuatnya. Dia mengaku telah menulis sendiri tulisan di halaman pertama sehingga ia dapat menjual buku itu dengan harga yang tinggi. Dengan berat hati dia mengembalikan uang Cindy.
Mengapa Detektif Clayton tahu bahwa buku itu palsu?
Rabu, 18 Januari 2012
Postingan Kasus--Part 1
Pada
hari berudara cukup panas itu, detektif Clayton mencoba untuk
mendinginkan suhu tubuhnya, peluh membasahi keningnya. Setelah sekian
lama, ia memutuskan untuk mengunjungi sebuah museum seni yang sedang
menyelenggarakan ultahnya yang ke 143 tahun.
Menjelang malam, tiba2 terdengar sebuah keributan yang mengatakan bahwa
seseorang telah terbunuh. Detektif Clayton pun bergegas menuju ke arah
keributan. Setibanya disana, ternyata polisi telah mendapat 4 orang tersangka yang memiliki motif yang cukup kuat untuk membunuh sang korban.
Berikut adalah hasil investigasi :
1. Tersangka pertama adalah Mendel Waschet, seorang sopir taksi langganan si korban berwarganegaraan Ukraina. Seringkali si korban mabuk dan muntah di mobil taksinya, bahkan ia sering tidak membayarnya. Ia mengaku sama sekali tak menemui si korban hari ini.
2. Tersangka kedua adalah Monica Mallucy Montserrat, asisten si korban berkewarganegaraan Amerika-Austria. Monica seringkali mendapat perlakuan tidak senonoh dari atasannya tersebut, bahkan ia pernah hampir diperkosa olehnya. Ia mengaku terus mengikuti korban sampai jam makan siang.
3. Tersangka Ketiga adalah Belluga Ocean Wendell, seorang mantan
prajurit berkebangsaan Amerika-Inggris. Karena terlilit hutang dengan si
korban,sebilah pedang pemberian ratu Inggris terdahulu miliknya dijual oleh si korban dan dianggap sebagai pengganti hutang. Ia mengaku sempat melihat korban menuju toilet pagi ini.
4. Tersangka keempat adalah Wahidno Zagger, seorang office-boy berdarah blasteran Indo-Amerika. Ia Seringkali mendapat perlakuan kasar dari si korban. Ia mengaku melihat korban mondar-mandir dari ruangannya menuju ruang bagian persenjataan.
Selesai mengorek informasi mengenai tersangka, Detektif Clayton menuju ke TKP. Sesampainya disana, ia mengamati dan mencari informasi mengenai si korban. Berikut adalah data diri si korban:
Korban
bernama Wendell Moch, seorang warga negara Jerman. Ia adalah kepala
musium yang sudah menjabat selama 4 tahun. Berkelakuan kurang baik,
sehingga tak sedikit orang membencinya. Seorang Alkoholik dan kasar.
Amat hobi Geografi, Golf, dan Feng Shui. Detektif Clayton menghela
nafas, lalu mulai mengelilingi TKP. Disana ia menemukan beberapa keganjilan mengenai posisi kematian si korban, antara lain :
- Korban meninggal dengan sebuah belati bergagang emas menancap di dadanya, sepertinya belati tersebut diambil dari museum itu sendiri.
- Korban meninggal dengan memegang tag namanya dengan tangan kanannya
- Tangan kiri korban membentuk angka 2 dan jatuh tepat diatas genangan air dari sebuah akuarium yang telah pecah akibat tertarik.
Langganan:
Postingan (Atom)